Tradisi penggunaan wewangian berkembang di Tiongkok. Tiongkok memiliki satu kata untuk wewangian, kata tersebut adalah Heang yang digunakan untuk parfum, dupa dan wangi. Heang diklasifikasikan ke dalam enam tipe, berdasarkan dengan suasana hati yang disebabkannya, yaitu tenang, tertutup, mewah, indah, halus, dan mulia.
Wewangian juga dibubuhkan dalam tinta, kertas, sachet yang diselipkan dalam pakaian dan kosmetik. Selop kayu yang terbuat dari kayu cendana wangi. Patung Buddha harum yang diukir dari kayu kamper. Penonton dalam pertunjukan tarian dan upacara lainnya berharap akan dilempari sachet wewangian.
Negara Tiongkok mengimpor minyak melati dari India, air mawar dari Persia melalui jalur sutra, dan juga aromatik cengkeh, jahe, pala dan nilam dari kepulauan Nusantara. .
Catatan Tiongkok banyak sekali yang mempunyai materi tentang aromaterapi, salah satunya yaitu The Hsian Pu. The Hsian Pu adalah sebuah catatan oleh Hung Chu (tahun 1100 M) menjelaskan tentang pembuatan wewangian. Pen Cao seorang tabib terkenal Cina abad ke-16, membahas hampir 2.000 herbal, termasuk bagiannya 20 minyak atsiri.
Sumber:
https://elib.unikom.ac.id/files/disk1/746/jbptunikompp-gdl-edyjogatam-37277-11-11.unik-a.pdf
Sumber Gambar:
https://img.fruugo.com/product/9/41/598435419_max.jpg